Kamis, 23 Februari 2017

Penampungan Air Mata

Penampungan Air Mata
By. Tetta Sally


Hari ini, ada dua hal penting dalam hidupku. Pertama, gaji awalku sebagai karyawan di salah satu perusahaan besar Kota Makassar yakni PT. Tetta Sally Meubel akan kuterima. Kedua, tepat hari ini, hari ulang tahun Marisa yang ke-23 tahun. Gadis asal Maros yang kerap kali mengisi hari-hariku dgn penuh canda. Gadis yang begitu gemar membuat dadaku berdebar saat berada di sampingnya. Gadis yang membuatku jatuh cinta. Meski tak mampu memilikinya. Seutuhnya.

Hari ini aku berjanji menemuinya. Setelah aku dapatkan gaji pertama. Sebab, dialah penyebab yang membuatku keras bekerja. Setiap hari dari pagi hingga larut malam. Mengucurkan tetes keringat. Mengumpulkan banyak biaya, meski terkadang dihiasi luka dan air mata. Tak sedikitpun kusesali. Sebab kuyakin, tetesan keringat yang kukeluarkan bukanlah tetesan yang akan sia-sia.
Bergegas aku menuju rumahnya dari kota Makassar ke kecamatan Camba, kabupaten Maros. Melewati jalan yang begitu menantang. Penuh liku dan berlubang. Takkan mampu membuatku terhalang. Mungkin seperti itulah juga sulitnya memilikimu seutuhnya. Kekasih yang sampai saat ini hanya berpura-pura menjadi pacarku.

“Andai kau tak mencintaiku, maka kumohon berpura-puralah untuk mencintaiku. Sampai kau lupa. Sampai kau lupa bahwa kau sedang berpura-pura.” Sepenggal surat cinta sebagai ungkapan perasaanku kepada Marisa yang kuberikan 3 tahun lalu. Namun sampai saat ini, dia sendiri belum memberiku jawaban apakah dia juga mencintaiku atau tidak. Marisa hanya berkata ingin menjalaninya bersama. Meski terkadang aku merasa menyiksa batinnya yang berusaha menumbuhkan cinta kepadaku. Sebab, jauh sebelum aku menyatakan perasaan. Hati Marisa baru saja habis terluka oleh kekasihnya yang ketahuan selingkuh dan memilih menikah bersama tantenya Marisa. 

Setelah kejadian itu,  Marisa sangat terpukul melihat kekasihnya, Suardam. Kekasih yang dulu begitu setia menemani Marisa kemanapun, dimanapun dan kapanpun. Hingga Marisa dan Suardam telah memegang komitmen bersama untuk melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius. Namun, seiring waktu berjalan, kebaikan dan kesetiaan Suardam kepada Marisa hanyalah sebuah sandiwara untuk mendekati tantenya yang lebih cantik dan bergelimang harta.

Sejak itu, Marisa yang dulu ceria dan hari-harinya bahagia. Kini tak lelah dilanda gerimis kala mengingat masa lalunya bersama Suardam yang membuatnya teriris. Sementara aku yang mencintaimu sebelum hangat tubuhmu jatuh kepelukan Suardam. Kini hanya mampu setia menyediakan bahu sebagai tempat sandaranmu untuk menangis. 

Terkadang seringkali air mataku ikut terjatuh saat tanganku membasuh air mata yang mengalir deras dipipi manjamu. Bagaimana mungkin, aku tak ikut menangis. Engkaulah gadis yang sering memberi rasa optimis, saat begitu banyak masalah yang juga menimpa hidupku. Engkaulah gadis yang sering memberi senyum manis, saat pahitnya hidup seringkali menyiksa batinku. Meski terkadang, engkau juga yang sering memberi isak tangis, saat cinta tak harus memeluk hangat tubuhmu. Hanya mampu menampung air matamu.

Hari ini aku berjanji untuk nenemuimu di hari bahagiamu. Di dalam mobil bus mini, tak henti-henti pikiranku menangkap hangat senyummu. Dalam perjalanan, aku melewati jalan penuh liku dan memacu adrenalin. Tak henti-henti juga kulafadzkan dzikir agar sampai dengan selamat di kampungmu. Membawa cinta dan segenap rindu yang teramat. Tujuanku hari ini ke kampungmu, bukan hanya untuk melukis senyum di hari ulang tahunmu. Tetapi juga ingin menghentikan sandiwara cinta ini, yang membuatmu harus mencintaiku dgn terpaksa. Aku tak mampu membuatmu harus berpura-pura tersenyum di depanku untuk mencintaiku. Hari ini, kuniatkan diriku untuk melepasmu. Karena aku ingin melihatmu kembali tersenyum manis alami. Tanpa berpura-pura. Meski alasan yang membuatmu tersenyum bukan karenaku. 

Senja mulai nampak menampar wajahku pasca terlelap menempuh jalan yang panjang dan berliku. Deretan sawah hijau dan subur begitu indah menyambut kedatanganku di tanah sarewangang (julukan Kabupaten Maros) ini. Akupun menuruni bus tepat di kabupaten Camba yang merupakan tempat bersejarah aku mengenalmu. Sebab, tempat inilah yang menjadi lokasi kita melaksanakan tugas pengabdian masyarakat tepat 3 tahun yang lalu saat kita masih berstatus mahasiswa. Sejenak aku bergegas untuk mencarimu. Tak begitu rumit untuk menemukan tempat tinggalmu, karena rata-rata warga dikampungmu saling mengenal satu sama lain. Cukup aku mempertanyakan namamu kepada salah satu petani di sekitar rumah warga. Mereka pun memberi jawaban, sesuai apa yang kuharapkan.

Akhirnya aku tiba di depan rumahmu. Dan tak lama aku mengetuk pintu rumahmu dengan penuh rindu yang menggebu dan dada yang berdegub. Kutemui ibumu yang sangat mahir meracik kopi kesukaanku. Sempat kumenanyakan kehadiranmu, ibumu hanya berkata “Marisa belum pulang mengajar di Sekolah, sebab hari ini ada latihan Smaphore di Sekolah. Jadi pulangnya agak telat nak.” 

Suara Adzan maghrib mulai berdendang. Sementara kehadiranmu yang kurindu kunjung tak pulang-pulang. Bergegas aku mengambil wudhu dan segera menunaikan ibadah 3 rakaat sembari mendo'akanmu agar tuntas rinduku yang semakin menghangat. Tak lama kemudian, suara denting sepatumu terdengar. Pertanda rinduku kini akhirnya dibayar tuntas. Senyummu, suaramu, tatapanmu mengisyaratkanku untuk segera memelukmu.

“Marisa, akhirnya kau pulang juga, dari tadi Rahim menunggumu disini.” Ucap Ibu Marisa sambil menuangkan teh untuknya.

“Maaf Ibu, aku tadi singgah dulu ke Pasar membeli menu sarapan malam.”

“Rahim. Sejak kapan kamu tiba? 

“Alhamdulillah, aku tiba sejam lalu. Bagaimana kabarmu Marisa?”

“Alhamdulillah baik. Saat ini aku sibuk mengajar kepanduan di Sekolah. Sebab, siswa disana masih kurang ilmu tentang kepanduan.” Jawab Marisa sembari menegukkan teh di bibir manisnya.

1 jam berlalu kami saling berbincang. Hal yang membuat dadaku semakin berguncang ialah saat sesekali Marisa menaikkan salah satu ujung bibirnya ketika menjawab tanyaku. Tak lama Ibu Marisa pergi ke ruang dapur. Sementara aku dan Marisa masih lanjut bercerita. Tiba-tiba lampu di rumah padam. Bergegas kuambil korek api di saku kananku untuk menyalakan sebatang lilin. Suasana rumah pun berubah drastis menjadi penuh romantis.

“Selamat ulang tahun Marisa. Tetaplah menjadi lilin yang merelakan tubuhnya habis terbakar untuk memberi cahaya bagi orang lain.” Ucapku memberi kejutan sembari memberi sekuntum mawar untuknya.

“Terima kasih atas ucapannya Rahim. Hampir aku sedih hari ini tidak ada yang begitu spesial di hari ulang tahunku. So Sweet. Sekali lagi terima kasih. Rahim, kekasihku.” Ucap Marisa dengan mata berkaca-kaca.

“Iya Marisa, aku telah lama menyiapkan ini untukmu. Namun, ada hal yang lebih penting ingin kukatakan padamu.”

“Apa yang ingin kau katakan Rahim? Katakanlah!” tanya Marisa dengan penuh penasaran.

“Kedatanganku disini. Aku ingin menghentikan kepura-puraan ini Marisa. Aku tidak ingin status kita dilandasi dengan kebohongan. Aku tidak sanggup melihatmu memaksa diri untuk mencintaiku. Mulai sekarang, carilah kekasih sejatimu Marisa. Kekasih yang benar-benar kau cintai dari lubuk terdalamnya hati. Meski jujur, aku begitu mencintaimu. Dan tak sanggup melihatmu ke pelukan orang lain.”

“Cukup Rahim. Jangan ingatkan aku bahwa aku pernah berpura-pura mencintaimu. Karena sampai saat ini. Ingatan itu telah hilang, kapan aku berpura-pura mencintaimu?” ucap Marisa sambil menghangatkan tanganku dengan genggamannya yang begitu erat.

“Kalau begitu, sediakah dirimu menjadi kekasihku? Yang mengecup keningmu setiap pagi dan memelukmu disetiap waktu. Maukah engkau menjadi pelengkap sempurnanya ibadahku? Menjadi kekasih halalku.” Ucapku kepada Marisa, sembari mendekatkan wajahku ke wajahnya, tak henti menatap harapan dimatanya.
Lama kita saling menatap. Genggaman kita semakin erat. Sementara tubuh lilin kian habis terbakar dipeluk hangatnya waktu. Tak lama, kau memelukku. Dan membisikkan kalimat “I Love You”. 

Share:

Jumat, 30 Desember 2016

Segala Hal Tentang Mencintaimu

Segala Hal Tentang Mencintaimu
By. Tetta Sally



Sehimpun tanya membisu
Tentang sunyi merajalela menawan tawa,
Membuat iri,
Pada setiap menit tak berdaya tanpa adanya detik,
Pada setiap rintihan hujan tak bermakna tanpa adanya kenangan,
Dan pada setiap apa yang ada dalam diriku tak utuh
tanpa kau disampingku,

Aku belajar memaknai diri,
Pada selembar kertas yang dibakar api dan menjadikannya abu,
Pada segala hal tentang sebab yang menjadikannya akibat,
Dan pada segala hal tentang dirimu
yang menjadikanku rindu,

Dan kutemukan tanda titik pada setiap deretan tanda tanya, bahwa
Tak ingin waktu melahap segala asa tentang niatku,
Tak ingin rasa takut menghantui ambisiku,
Tak ingin kata “TIDAK” menghalangi langkahku,
Untuk mengatakan
Segala hal tentang mencintaimu adalah segala-galanya

Hal terindah dalam hidupku.

*29 Desember 2016
Share:

Sabtu, 26 November 2016

Bidadari Narapidana Bersenjata Tawa

Bidadari Narapidana Bersenjata Tawa
By. Tetta Sallyy


Baru saja
ingatanku kembali utuh
mendengar tawamu
lebih merdu
dari suara petikan gitar
yang biasa kumainkan saat aku
mengingat segala hal tentangmu

Kucumbui waktu untuk berlari
mencari ingatan tersendiri tentang diriku
dan sekali lagi kukatakan
aku tak mampu
aku tak tahu
bahkan aku lupa
kapan aku bernafas saat terakhir kali aku mendengar tawamu

Hingga kucoba merangkak
meski hati dan jiwa penuh retak
dan berulang kali kukatakan
aku kembali tak mampu
aku kembali tak tahu
bahkan aku kembali lupa, dan
aku hanya mencoba menanamkan ambisi
untuk mencurimu,
mencuri segala tentangmu, kecuali masa lalumu

Engkau bidadari narapidana bersenjata tawa
sebab melalui tawamu
kau adalah perampok terhebat
yang membegal seluruh nafas dan ingatanku

*27 November 2016
Share:

Rabu, 23 November 2016

Selasa, 22 November 2016

Siapa bilang cinta itu buta?

Siapa bilang cinta itu buta?
by. Tetta Sallyy


Siapa bilang cinta itu buta?
dimanapun engkau melangkah
senyummu adalah kiblat ingatanku
kemanapun engkau pergi
tawamu adalah warna yang mengisi kosongnya lembaran kisahku
kapanpun engkau kembali
hadirmu adalah rindu yang tak pernah tuntas
merayakan pesta yang kunamai kesunyian
terus,
masihkah engkau mengatakan cinta itu buta?
sekali lagi,
aku tegaskan cinta tak pernah buta,
sebab hatiku terus merasakan hadirmu,
jauh sebelum engkau datang mengetuk pintu hatiku
Share:

Kamis, 13 Oktober 2016

Air Mata Bermukim Sunyi

Air Mata Bermukim Sunyi
by Sandy Daeng Salli


Malam terus seperti ini. Sepi, dan selalu sepi. Sedang, gitar yang selalu kumainkan sambil memandangi senyumnya juga ikut tergeletak di sudut kamarku. Seakan sunyi malam ini baru saja berpesta atas suasana hatiku yang lagi tergeletak ditindas oleh kejamnya adat-istiadat keluarga. Entahlah, selalu saja cinta yang telah lama kubangun dengan pondasi yang begitu kuat, ujung-ujungnya selalu tumbang diterpa oleh skenario cinta yang dimainkan oleh orang tua. Mungkin luka yang menancap di dada ini telah lama ditakdirkan untuk selalu menyapa. Ataukah mungkin kata sederhana yang aku namakan “kebahagiaan” dari lahir telah ditakdirkan menjadi antagonis dalam cerita cintaku yang selalu berujung air mata.

Sudahlah. Aku ingin melupakannya. Sebab seorang lelaki selalu tahu cara untuk melupakan wanita yang begitu disayanginya. Malam ini, acara TV favoritku kembali tayang. Wadah bagi para pecandu sunyi  menaburkan sepinya di depan layar kaca. Jemari mulai berlaga bersama tombol-tombol di handphone. Dari sekian banyaknya nomor handphone yang bertaburan malam ini, akhirnya tak lama kudapatkan sebuah nomor silaturrahmi yang statusnya malam ini seirama dengan suasana hatiku. Tanpa membuang waktu, aku langsung mengiriminya pesan melalui SMS.
“Hay...!!! Boleh kenalan? Namaku Diky. Kalau kamu?” begitulah isi SMSku untuknya.
Beberapa saat kemudian aku masih terus menunggu balasan SMS darinya. Namun, jam dinding di kamarku telah menunjukkan pukul 01.15 dini hari, masih saja SMS yang kunanti darinya belum juga masuk. Sementara aku tak mampu melawan gravitasi bantal yang terus menggodaku untuk berlayar ke pulau kapuk.
***
Hari mulai pagi. Sinar mentari dari jendela kamarku lebih dulu membangunkan tidur lelapku. Disisi lain, SMS yang kutunggu tadi malam juga tak mau kalah untuk menyapa pagi yang kukatakan indah saat balasan SMS nya telah masuk.

“Hay juga. Aku Farisha” Itulah balasan SMS darinya.
“Oh dengan Farisha yah, kamu tinggal dimana?” balasku kembali.
“Aku tinggal di Pallangga tepatnya di Panciro, Gowa. Kalau kamu sendiri dimana?”
“Kalau aku tinggalnya di Talassalapang, Makassar. Senang berkenalan denganmu Farisha”

Semakin hari, waktu terasa begitu singkat, membuat hubungan silaturrahmi ini semakin erat. Kini aku merasa terbebas oleh kesunyian yang mencekik setiap malam. Saling balas SMS dan berbagi cerita melalui percakapan handphone. Sunyipun setiap malam semakin larut. Kami juga sering berdebat tentang hal-hal yang tak mesti untuk diperdebatkan. Semua niatnya hanya untuk menciptakan sebuah tawa. Sebab kami sendiri sadar bahwa orang seperti kami tidak mudah untuk merasakan yang namanya tawa. Hati ini masih terbalut luka oleh kenangan yang menancap ingatan.
Aku dan Farisha memiliki kisah cinta yang hampir sama. Kami pernah disakiti oleh seseorang yang begitu kami sayangi. Bahkan kami pernah menarik sebuah kesimpulan dari hasil perdebatan panjang bahwa “Orang yang tulus mencintai, memang tidak ditakdirkan untuk bahagia” sehingga sangat wajar kisah cinta kami masing-masing selalu berujung air mata. Aku akhirnya merumuskan sebuah ambisi untuk membalaskan sakit hatiku kepada seseorang yang pernah menancapkan luka abadi di hati ini. Dan perang sandiwarapun telah dideklarasikan. Mulai hari ini, status hubunganku dengan Farisha di Facebook menjadi berpacaran. Semua hanya untuk balas dendam. Yah, hati harus dibayar tuntas dengan hati.

Tak ada kata yang tak mampu melawan hasrat diri ini selain balas dendam kepada seseorang yang tak pernah mengerti hakikat dari ketulusan cinta. Aku selalu berkhayal dikala aku berjalan bersama Farisha, saat itupun aku menyaksikan pesta air mata yang membanjiri pipi seseorang yang pernah melilitkan duri di hatiku. Itu adalah impian dan ambisi. Agar aku bisa menghentikan pesta air mata yang bermukim sunyi setiap malam. Sungguh, aku sangat menanti saat-saat itu. Saat dimana air mata yang kutampung setiap malam menjadi beku dan kutancapkan langsung di dadanya. Semoga waktu dan takdir mampu bersahabat dengan ambisiku.

Aku beruntung bisa mengenal dan bersahabat dengan Farisha. Pemikirannya selalu bernada dengan apa yang kupikirkan. Dia juga selalu berusaha membantuku dikala aku membutuhkan pertolongannya. Untuk menyempurnakan rencanaku ini. Kini aku kembali meminta pertolongan kepada Farisha.

“Assalamu ‘alaikum wr.wb. Risha, boleh minta tolong, nggak?” ujar sms yang kukirimkan kepadanya.
“Walaikum salam wr.wb. Iya bisa, memangnya apa yang bisa saya bantu?” balasnya.
“Aku ingin bertemu denganmu, dan berfoto mesra, agar orang itu semakin cemburu dan sakit hati,” balasku kembali.
“hmmmm... baik, kapan bisa fotonya?
“Besok bisa nggak? Kita ketemunya di Balla’ Lompoa yah. Kemudian jangan lupa untuk memakai baju warna merah supaya kita terlihat lebih romantis, heheh...”
“Insyaallah”

Esok hari kemudian, aku bergegas dari kota daeng menuju tempat ketemu yang semalam telah disepakati bersama. Melintasi kerikil-kerikil sepanjang jalan Butta Kalabbirang. Serta menghirup aroma hidangan Coto Makassar yang ada di warung pinggir jalan. Semuanya tak menggoyahkan sedikitpun perjalananku untuk bertemu pertama kalinya dengan Farisha. Yah, ini adalah pertemuan pertamaku dengannya setelah sekian lama saling mengenal satu sama lain namun tak pernah bertatap muka.

Tiba disana, sejenak aku singgah di masjid untuk melaksanakan shalat dhuhur. Menghadap kepada-Nya dan berdo’a agar aku bisa dipertemukan dengan sosok wanita yang mampu memahami ketulusan hatiku. Mampu menjadi motivator dikala saya sedang sedih dan terpuruk. Dan yang terpenting, tidak terikat dengan yang namanya adat-istiadat keluarga. Agar cinta yang kujaga untuknya tidak lagi berujung air mata. Aku tidak ingin cintaku kembali kandas karena kedua orang tuanya tak memihak kepadaku.

Satu jam telah berlalu dari waktu perjanjianku dengan Farisha untuk bertemu di depan Balla’ Lompoa. Nampaknya dia telah lama menunggu di tempat itu. Terbukti dari smsnya “Sudah sampai dimana Diky?” kiriman dari Farisha satu jam yang lalu. Aku tak ingin membuatnya menunggu. Langsung saja perjalananku sedikit kupercepat ke Balla’ Lompoa yang berada sekitar 1 km lagi menuju tempat itu. Sampai disana, Farisha memanggil namaku. Membuat pandanganku berbalik arah, terkejut aku melihat tatapan dari seorang wanita yang mampu meruntuhkan kelaki-lakianku. Sembari aku memandanginya, tak lama dia menaikkan salah satu ujung bibirnya. Seperti ilusi. Aku terbawa dalam euforia pesta gemerlap bintang di balik senyumnya. Dan semakin perlahan senyumnya mampu mengguncang seluruh bilik jantungku. Sejenak pandanganku tergelincir di pipinya. Hingga membuatku iri pada tai lalat di pipi kirinya yang menjadi penyempurna dibalik kecantikan wajahnya. Dan lucunya, aku mulai mencintainya. Sungguh secepat itu dia langsung membuatku jatuh cinta.

Setelah bertatap muka, aku mengajak Farisha menyantap hidangan Warung Coto yang ada di depan Balla’ Lompoa. Sama seperti biasanya saat berbicara melalui handphone, kamipun mulai berlaga dalam arena diskusi.  Namun suasana diskusi mulai senyap, saat aku melihat Sarah menyantap coto yang tak jauh dari meja makan kami. Yah, dialah Sarah yang telah membunuh impian dan merubuhkan istana cinta yang pernah kubangun untuknya. Namun perlahan sakit itu, kini mulai terbalut oleh kehadiran Farisha.

Tanpa menunggu lama, aku menyuruh Farisha untuk berpura-pura menjadi kekasihku. Mengelus kepalanya. Memanggilnya dengan kata “sayang”. Sesekali menyuapinya sesendok coto. Sembari mataku berkaca-kaca menatap wajahnya. Dan dadaku ikut bergetar menyaksikan senyum di bibir mungilnya terus menari di atas kelopak mataku. Ah! Meskipun ini hanyalah sandiwara, hasratku terus menyeruak tak ingin cepat berlalu.

Sarah akhirnya pergi. Berlari dan keluar dari Warung Coto. Wajahnya terlukis deras air mata di pipinya. Dan dia hanya meninggalkan secarik kertas di atas mejanya.
Untukmu Diky

“...Aku sudah putuskan untuk memilih berjuang bersamamu dan melawan adat-istiadat keluargaku. Aku pergi meninggalkan rumah. Sebab aku tak kuat menahan tulang rusukku mencari tulang rusukmu untuk kembali bersatu. Sebab aku percaya, bersamamu yang dibingkai dengan ketulusan cinta. Akan kutemukan kebahagiaanku yang abadi...”

Aku langsung berlari dan keluar mengejar Sarah. Namun, aku sangat kesal melihat banyaknya kendaraan yang saling berdesakan di sepanjang jalan. Entah apa yang terjadi saat ini. Padahal awalnya kondisi jalanan sangat lancar dan tidak berpotensi macet. Melihat kondisi sepanjang jalan, sepertinya tak mampu lagi aku mengejar Sarah yang entah kemana perginya. Akhirnya, kuputuskan saja untuk  kembali ke Warung Coto dan menemui Farisha. Sampai disana, aku panik melihat Farisha bersama seorang lelaki yang begitu asing di mataku.

“Hay, bagaimana? Kamu sudah berhasil menemukan Sarah?” tanya Farisha.

“Aku tidak berhasil menemukannya. Sungguh aku sangat menyesal melakukan semua ini untuknya.” Jawabku.

“Jangan seperti itu. Jadikan semuanya adalah pelajaran. Dan kamu harus tetap optimis yah. Oh iya, kenalkan ini Ahmad tunanganku. Dan bulan depan insyaallah adalah penikahan kami.”

“Hah! Serius kamu sudah tunangan?  Tanyaku dengan panik.

“Hehehe... iya. Rencananya tadi aku mau beri kamu undangan. Cuman belum sempat. Dan urusan yang tadi, kamu tidak perlu khawatir kok. Ahmad sudah mengerti dan juga mengizinkan untuk melakukan sandiwara ini.”

“Iya terima kasih banyak Farisha. Aku sungguh menyesali perbuatanku kepada Sarah. Aku harus bertemu dengannya dan meminta maaf.” Ujarku penuh penyesalan.

Kembali aku harus mengubur rasa cinta kepada seorang wanita. Kejamnya sebuah dendam takkan mampu menyelesaikan sebuah masalah dan hanya menimbulkan kembali banyak masalah. Sampai saat ini aku menyesal pada diriku sendiri atas apa yang pernah kurasakan kepada Farisha. Namun hal yang tidak pernah bisa kumaafkan dari diriku sendiri. Saat aku hanya mampu menemui Sarah, dengan membawa jutaan kata maaf dan menaburkan bunga di tepi makamnya. Hingga sunyi kembali berpesta di bawah genangan air mata penyesalan.

Share:

Rindu Kembali Berpesta

Rindu Kembali Berpesta
By. Tetta Sallyy

Kembali
ada secuil rindu berpesta bersama
sayatan sunyi
tak tahu kemana senyumnya saat ini bermukim
namun rasa syukur masih kuternakkan hari ini
sebab ada bekas pelukmu
bermukim indah dalam folder
yang isinya penuh coretan segala tentangmu
itulah yang kubaca
hingga menjelma
menjadi perisai
dikala rindu layaknya ujung badik
yang menancap
pas inti jantungku
Share: