Penampungan Air Mata
By. Tetta Sally
Hari ini, ada dua hal penting dalam hidupku. Pertama, gaji awalku sebagai karyawan di salah satu perusahaan besar Kota Makassar yakni PT. Tetta Sally Meubel akan kuterima. Kedua, tepat hari ini, hari ulang tahun Marisa yang ke-23 tahun. Gadis asal Maros yang kerap kali mengisi hari-hariku dgn penuh canda. Gadis yang begitu gemar membuat dadaku berdebar saat berada di sampingnya. Gadis yang membuatku jatuh cinta. Meski tak mampu memilikinya. Seutuhnya.
Hari ini aku berjanji menemuinya. Setelah aku dapatkan gaji pertama. Sebab, dialah penyebab yang membuatku keras bekerja. Setiap hari dari pagi hingga larut malam. Mengucurkan tetes keringat. Mengumpulkan banyak biaya, meski terkadang dihiasi luka dan air mata. Tak sedikitpun kusesali. Sebab kuyakin, tetesan keringat yang kukeluarkan bukanlah tetesan yang akan sia-sia.
Bergegas aku menuju rumahnya dari kota Makassar ke kecamatan Camba, kabupaten Maros. Melewati jalan yang begitu menantang. Penuh liku dan berlubang. Takkan mampu membuatku terhalang. Mungkin seperti itulah juga sulitnya memilikimu seutuhnya. Kekasih yang sampai saat ini hanya berpura-pura menjadi pacarku.
“Andai kau tak mencintaiku, maka kumohon berpura-puralah untuk mencintaiku. Sampai kau lupa. Sampai kau lupa bahwa kau sedang berpura-pura.” Sepenggal surat cinta sebagai ungkapan perasaanku kepada Marisa yang kuberikan 3 tahun lalu. Namun sampai saat ini, dia sendiri belum memberiku jawaban apakah dia juga mencintaiku atau tidak. Marisa hanya berkata ingin menjalaninya bersama. Meski terkadang aku merasa menyiksa batinnya yang berusaha menumbuhkan cinta kepadaku. Sebab, jauh sebelum aku menyatakan perasaan. Hati Marisa baru saja habis terluka oleh kekasihnya yang ketahuan selingkuh dan memilih menikah bersama tantenya Marisa.
Setelah kejadian itu, Marisa sangat terpukul melihat kekasihnya, Suardam. Kekasih yang dulu begitu setia menemani Marisa kemanapun, dimanapun dan kapanpun. Hingga Marisa dan Suardam telah memegang komitmen bersama untuk melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius. Namun, seiring waktu berjalan, kebaikan dan kesetiaan Suardam kepada Marisa hanyalah sebuah sandiwara untuk mendekati tantenya yang lebih cantik dan bergelimang harta.
Sejak itu, Marisa yang dulu ceria dan hari-harinya bahagia. Kini tak lelah dilanda gerimis kala mengingat masa lalunya bersama Suardam yang membuatnya teriris. Sementara aku yang mencintaimu sebelum hangat tubuhmu jatuh kepelukan Suardam. Kini hanya mampu setia menyediakan bahu sebagai tempat sandaranmu untuk menangis.
Terkadang seringkali air mataku ikut terjatuh saat tanganku membasuh air mata yang mengalir deras dipipi manjamu. Bagaimana mungkin, aku tak ikut menangis. Engkaulah gadis yang sering memberi rasa optimis, saat begitu banyak masalah yang juga menimpa hidupku. Engkaulah gadis yang sering memberi senyum manis, saat pahitnya hidup seringkali menyiksa batinku. Meski terkadang, engkau juga yang sering memberi isak tangis, saat cinta tak harus memeluk hangat tubuhmu. Hanya mampu menampung air matamu.
Hari ini aku berjanji untuk nenemuimu di hari bahagiamu. Di dalam mobil bus mini, tak henti-henti pikiranku menangkap hangat senyummu. Dalam perjalanan, aku melewati jalan penuh liku dan memacu adrenalin. Tak henti-henti juga kulafadzkan dzikir agar sampai dengan selamat di kampungmu. Membawa cinta dan segenap rindu yang teramat. Tujuanku hari ini ke kampungmu, bukan hanya untuk melukis senyum di hari ulang tahunmu. Tetapi juga ingin menghentikan sandiwara cinta ini, yang membuatmu harus mencintaiku dgn terpaksa. Aku tak mampu membuatmu harus berpura-pura tersenyum di depanku untuk mencintaiku. Hari ini, kuniatkan diriku untuk melepasmu. Karena aku ingin melihatmu kembali tersenyum manis alami. Tanpa berpura-pura. Meski alasan yang membuatmu tersenyum bukan karenaku.
Senja mulai nampak menampar wajahku pasca terlelap menempuh jalan yang panjang dan berliku. Deretan sawah hijau dan subur begitu indah menyambut kedatanganku di tanah sarewangang (julukan Kabupaten Maros) ini. Akupun menuruni bus tepat di kabupaten Camba yang merupakan tempat bersejarah aku mengenalmu. Sebab, tempat inilah yang menjadi lokasi kita melaksanakan tugas pengabdian masyarakat tepat 3 tahun yang lalu saat kita masih berstatus mahasiswa. Sejenak aku bergegas untuk mencarimu. Tak begitu rumit untuk menemukan tempat tinggalmu, karena rata-rata warga dikampungmu saling mengenal satu sama lain. Cukup aku mempertanyakan namamu kepada salah satu petani di sekitar rumah warga. Mereka pun memberi jawaban, sesuai apa yang kuharapkan.
Akhirnya aku tiba di depan rumahmu. Dan tak lama aku mengetuk pintu rumahmu dengan penuh rindu yang menggebu dan dada yang berdegub. Kutemui ibumu yang sangat mahir meracik kopi kesukaanku. Sempat kumenanyakan kehadiranmu, ibumu hanya berkata “Marisa belum pulang mengajar di Sekolah, sebab hari ini ada latihan Smaphore di Sekolah. Jadi pulangnya agak telat nak.”
Suara Adzan maghrib mulai berdendang. Sementara kehadiranmu yang kurindu kunjung tak pulang-pulang. Bergegas aku mengambil wudhu dan segera menunaikan ibadah 3 rakaat sembari mendo'akanmu agar tuntas rinduku yang semakin menghangat. Tak lama kemudian, suara denting sepatumu terdengar. Pertanda rinduku kini akhirnya dibayar tuntas. Senyummu, suaramu, tatapanmu mengisyaratkanku untuk segera memelukmu.
“Marisa, akhirnya kau pulang juga, dari tadi Rahim menunggumu disini.” Ucap Ibu Marisa sambil menuangkan teh untuknya.
“Maaf Ibu, aku tadi singgah dulu ke Pasar membeli menu sarapan malam.”
“Rahim. Sejak kapan kamu tiba?
“Alhamdulillah, aku tiba sejam lalu. Bagaimana kabarmu Marisa?”
“Alhamdulillah baik. Saat ini aku sibuk mengajar kepanduan di Sekolah. Sebab, siswa disana masih kurang ilmu tentang kepanduan.” Jawab Marisa sembari menegukkan teh di bibir manisnya.
1 jam berlalu kami saling berbincang. Hal yang membuat dadaku semakin berguncang ialah saat sesekali Marisa menaikkan salah satu ujung bibirnya ketika menjawab tanyaku. Tak lama Ibu Marisa pergi ke ruang dapur. Sementara aku dan Marisa masih lanjut bercerita. Tiba-tiba lampu di rumah padam. Bergegas kuambil korek api di saku kananku untuk menyalakan sebatang lilin. Suasana rumah pun berubah drastis menjadi penuh romantis.
“Selamat ulang tahun Marisa. Tetaplah menjadi lilin yang merelakan tubuhnya habis terbakar untuk memberi cahaya bagi orang lain.” Ucapku memberi kejutan sembari memberi sekuntum mawar untuknya.
“Terima kasih atas ucapannya Rahim. Hampir aku sedih hari ini tidak ada yang begitu spesial di hari ulang tahunku. So Sweet. Sekali lagi terima kasih. Rahim, kekasihku.” Ucap Marisa dengan mata berkaca-kaca.
“Iya Marisa, aku telah lama menyiapkan ini untukmu. Namun, ada hal yang lebih penting ingin kukatakan padamu.”
“Apa yang ingin kau katakan Rahim? Katakanlah!” tanya Marisa dengan penuh penasaran.
“Kedatanganku disini. Aku ingin menghentikan kepura-puraan ini Marisa. Aku tidak ingin status kita dilandasi dengan kebohongan. Aku tidak sanggup melihatmu memaksa diri untuk mencintaiku. Mulai sekarang, carilah kekasih sejatimu Marisa. Kekasih yang benar-benar kau cintai dari lubuk terdalamnya hati. Meski jujur, aku begitu mencintaimu. Dan tak sanggup melihatmu ke pelukan orang lain.”
“Cukup Rahim. Jangan ingatkan aku bahwa aku pernah berpura-pura mencintaimu. Karena sampai saat ini. Ingatan itu telah hilang, kapan aku berpura-pura mencintaimu?” ucap Marisa sambil menghangatkan tanganku dengan genggamannya yang begitu erat.
“Kalau begitu, sediakah dirimu menjadi kekasihku? Yang mengecup keningmu setiap pagi dan memelukmu disetiap waktu. Maukah engkau menjadi pelengkap sempurnanya ibadahku? Menjadi kekasih halalku.” Ucapku kepada Marisa, sembari mendekatkan wajahku ke wajahnya, tak henti menatap harapan dimatanya.
Lama kita saling menatap. Genggaman kita semakin erat. Sementara tubuh lilin kian habis terbakar dipeluk hangatnya waktu. Tak lama, kau memelukku. Dan membisikkan kalimat “I Love You”.
0 komentar:
Posting Komentar