Air Mata Bermukim Sunyi
by Sandy Daeng Salli
Malam terus seperti ini. Sepi, dan selalu sepi. Sedang, gitar yang selalu kumainkan sambil memandangi senyumnya juga ikut tergeletak di sudut kamarku. Seakan sunyi malam ini baru saja berpesta atas suasana hatiku yang lagi tergeletak ditindas oleh kejamnya adat-istiadat keluarga. Entahlah, selalu saja cinta yang telah lama kubangun dengan pondasi yang begitu kuat, ujung-ujungnya selalu tumbang diterpa oleh skenario cinta yang dimainkan oleh orang tua. Mungkin luka yang menancap di dada ini telah lama ditakdirkan untuk selalu menyapa. Ataukah mungkin kata sederhana yang aku namakan “kebahagiaan” dari lahir telah ditakdirkan menjadi antagonis dalam cerita cintaku yang selalu berujung air mata.
Sudahlah. Aku ingin melupakannya. Sebab seorang lelaki selalu tahu cara untuk melupakan wanita yang begitu disayanginya. Malam ini, acara TV favoritku kembali tayang. Wadah bagi para pecandu sunyi menaburkan sepinya di depan layar kaca. Jemari mulai berlaga bersama tombol-tombol di handphone. Dari sekian banyaknya nomor handphone yang bertaburan malam ini, akhirnya tak lama kudapatkan sebuah nomor silaturrahmi yang statusnya malam ini seirama dengan suasana hatiku. Tanpa membuang waktu, aku langsung mengiriminya pesan melalui SMS.
“Hay...!!! Boleh kenalan? Namaku Diky. Kalau kamu?” begitulah isi SMSku untuknya.
Beberapa saat kemudian aku masih terus menunggu balasan SMS darinya. Namun, jam dinding di kamarku telah menunjukkan pukul 01.15 dini hari, masih saja SMS yang kunanti darinya belum juga masuk. Sementara aku tak mampu melawan gravitasi bantal yang terus menggodaku untuk berlayar ke pulau kapuk.
***
Hari mulai pagi. Sinar mentari dari jendela kamarku lebih dulu membangunkan tidur lelapku. Disisi lain, SMS yang kutunggu tadi malam juga tak mau kalah untuk menyapa pagi yang kukatakan indah saat balasan SMS nya telah masuk.
“Hay juga. Aku Farisha” Itulah balasan SMS darinya.
“Oh dengan Farisha yah, kamu tinggal dimana?” balasku kembali.
“Aku tinggal di Pallangga tepatnya di Panciro, Gowa. Kalau kamu sendiri dimana?”
“Kalau aku tinggalnya di Talassalapang, Makassar. Senang berkenalan denganmu Farisha”
Semakin hari, waktu terasa begitu singkat, membuat hubungan silaturrahmi ini semakin erat. Kini aku merasa terbebas oleh kesunyian yang mencekik setiap malam. Saling balas SMS dan berbagi cerita melalui percakapan handphone. Sunyipun setiap malam semakin larut. Kami juga sering berdebat tentang hal-hal yang tak mesti untuk diperdebatkan. Semua niatnya hanya untuk menciptakan sebuah tawa. Sebab kami sendiri sadar bahwa orang seperti kami tidak mudah untuk merasakan yang namanya tawa. Hati ini masih terbalut luka oleh kenangan yang menancap ingatan.
Aku dan Farisha memiliki kisah cinta yang hampir sama. Kami pernah disakiti oleh seseorang yang begitu kami sayangi. Bahkan kami pernah menarik sebuah kesimpulan dari hasil perdebatan panjang bahwa “Orang yang tulus mencintai, memang tidak ditakdirkan untuk bahagia” sehingga sangat wajar kisah cinta kami masing-masing selalu berujung air mata. Aku akhirnya merumuskan sebuah ambisi untuk membalaskan sakit hatiku kepada seseorang yang pernah menancapkan luka abadi di hati ini. Dan perang sandiwarapun telah dideklarasikan. Mulai hari ini, status hubunganku dengan Farisha di Facebook menjadi berpacaran. Semua hanya untuk balas dendam. Yah, hati harus dibayar tuntas dengan hati.
Tak ada kata yang tak mampu melawan hasrat diri ini selain balas dendam kepada seseorang yang tak pernah mengerti hakikat dari ketulusan cinta. Aku selalu berkhayal dikala aku berjalan bersama Farisha, saat itupun aku menyaksikan pesta air mata yang membanjiri pipi seseorang yang pernah melilitkan duri di hatiku. Itu adalah impian dan ambisi. Agar aku bisa menghentikan pesta air mata yang bermukim sunyi setiap malam. Sungguh, aku sangat menanti saat-saat itu. Saat dimana air mata yang kutampung setiap malam menjadi beku dan kutancapkan langsung di dadanya. Semoga waktu dan takdir mampu bersahabat dengan ambisiku.
Aku beruntung bisa mengenal dan bersahabat dengan Farisha. Pemikirannya selalu bernada dengan apa yang kupikirkan. Dia juga selalu berusaha membantuku dikala aku membutuhkan pertolongannya. Untuk menyempurnakan rencanaku ini. Kini aku kembali meminta pertolongan kepada Farisha.
“Assalamu ‘alaikum wr.wb. Risha, boleh minta tolong, nggak?” ujar sms yang kukirimkan kepadanya.
“Walaikum salam wr.wb. Iya bisa, memangnya apa yang bisa saya bantu?” balasnya.
“Aku ingin bertemu denganmu, dan berfoto mesra, agar orang itu semakin cemburu dan sakit hati,” balasku kembali.
“hmmmm... baik, kapan bisa fotonya?
“Besok bisa nggak? Kita ketemunya di Balla’ Lompoa yah. Kemudian jangan lupa untuk memakai baju warna merah supaya kita terlihat lebih romantis, heheh...”
“Insyaallah”
Esok hari kemudian, aku bergegas dari kota daeng menuju tempat ketemu yang semalam telah disepakati bersama. Melintasi kerikil-kerikil sepanjang jalan Butta Kalabbirang. Serta menghirup aroma hidangan Coto Makassar yang ada di warung pinggir jalan. Semuanya tak menggoyahkan sedikitpun perjalananku untuk bertemu pertama kalinya dengan Farisha. Yah, ini adalah pertemuan pertamaku dengannya setelah sekian lama saling mengenal satu sama lain namun tak pernah bertatap muka.
Tiba disana, sejenak aku singgah di masjid untuk melaksanakan shalat dhuhur. Menghadap kepada-Nya dan berdo’a agar aku bisa dipertemukan dengan sosok wanita yang mampu memahami ketulusan hatiku. Mampu menjadi motivator dikala saya sedang sedih dan terpuruk. Dan yang terpenting, tidak terikat dengan yang namanya adat-istiadat keluarga. Agar cinta yang kujaga untuknya tidak lagi berujung air mata. Aku tidak ingin cintaku kembali kandas karena kedua orang tuanya tak memihak kepadaku.
Satu jam telah berlalu dari waktu perjanjianku dengan Farisha untuk bertemu di depan Balla’ Lompoa. Nampaknya dia telah lama menunggu di tempat itu. Terbukti dari smsnya “Sudah sampai dimana Diky?” kiriman dari Farisha satu jam yang lalu. Aku tak ingin membuatnya menunggu. Langsung saja perjalananku sedikit kupercepat ke Balla’ Lompoa yang berada sekitar 1 km lagi menuju tempat itu. Sampai disana, Farisha memanggil namaku. Membuat pandanganku berbalik arah, terkejut aku melihat tatapan dari seorang wanita yang mampu meruntuhkan kelaki-lakianku. Sembari aku memandanginya, tak lama dia menaikkan salah satu ujung bibirnya. Seperti ilusi. Aku terbawa dalam euforia pesta gemerlap bintang di balik senyumnya. Dan semakin perlahan senyumnya mampu mengguncang seluruh bilik jantungku. Sejenak pandanganku tergelincir di pipinya. Hingga membuatku iri pada tai lalat di pipi kirinya yang menjadi penyempurna dibalik kecantikan wajahnya. Dan lucunya, aku mulai mencintainya. Sungguh secepat itu dia langsung membuatku jatuh cinta.
Setelah bertatap muka, aku mengajak Farisha menyantap hidangan Warung Coto yang ada di depan Balla’ Lompoa. Sama seperti biasanya saat berbicara melalui handphone, kamipun mulai berlaga dalam arena diskusi. Namun suasana diskusi mulai senyap, saat aku melihat Sarah menyantap coto yang tak jauh dari meja makan kami. Yah, dialah Sarah yang telah membunuh impian dan merubuhkan istana cinta yang pernah kubangun untuknya. Namun perlahan sakit itu, kini mulai terbalut oleh kehadiran Farisha.
Tanpa menunggu lama, aku menyuruh Farisha untuk berpura-pura menjadi kekasihku. Mengelus kepalanya. Memanggilnya dengan kata “sayang”. Sesekali menyuapinya sesendok coto. Sembari mataku berkaca-kaca menatap wajahnya. Dan dadaku ikut bergetar menyaksikan senyum di bibir mungilnya terus menari di atas kelopak mataku. Ah! Meskipun ini hanyalah sandiwara, hasratku terus menyeruak tak ingin cepat berlalu.
Sarah akhirnya pergi. Berlari dan keluar dari Warung Coto. Wajahnya terlukis deras air mata di pipinya. Dan dia hanya meninggalkan secarik kertas di atas mejanya.
Untukmu Diky
“...Aku sudah putuskan untuk memilih berjuang bersamamu dan melawan adat-istiadat keluargaku. Aku pergi meninggalkan rumah. Sebab aku tak kuat menahan tulang rusukku mencari tulang rusukmu untuk kembali bersatu. Sebab aku percaya, bersamamu yang dibingkai dengan ketulusan cinta. Akan kutemukan kebahagiaanku yang abadi...”
Aku langsung berlari dan keluar mengejar Sarah. Namun, aku sangat kesal melihat banyaknya kendaraan yang saling berdesakan di sepanjang jalan. Entah apa yang terjadi saat ini. Padahal awalnya kondisi jalanan sangat lancar dan tidak berpotensi macet. Melihat kondisi sepanjang jalan, sepertinya tak mampu lagi aku mengejar Sarah yang entah kemana perginya. Akhirnya, kuputuskan saja untuk kembali ke Warung Coto dan menemui Farisha. Sampai disana, aku panik melihat Farisha bersama seorang lelaki yang begitu asing di mataku.
“Hay, bagaimana? Kamu sudah berhasil menemukan Sarah?” tanya Farisha.
“Aku tidak berhasil menemukannya. Sungguh aku sangat menyesal melakukan semua ini untuknya.” Jawabku.
“Jangan seperti itu. Jadikan semuanya adalah pelajaran. Dan kamu harus tetap optimis yah. Oh iya, kenalkan ini Ahmad tunanganku. Dan bulan depan insyaallah adalah penikahan kami.”
“Hah! Serius kamu sudah tunangan? Tanyaku dengan panik.
“Hehehe... iya. Rencananya tadi aku mau beri kamu undangan. Cuman belum sempat. Dan urusan yang tadi, kamu tidak perlu khawatir kok. Ahmad sudah mengerti dan juga mengizinkan untuk melakukan sandiwara ini.”
“Iya terima kasih banyak Farisha. Aku sungguh menyesali perbuatanku kepada Sarah. Aku harus bertemu dengannya dan meminta maaf.” Ujarku penuh penyesalan.
Kembali aku harus mengubur rasa cinta kepada seorang wanita. Kejamnya sebuah dendam takkan mampu menyelesaikan sebuah masalah dan hanya menimbulkan kembali banyak masalah. Sampai saat ini aku menyesal pada diriku sendiri atas apa yang pernah kurasakan kepada Farisha. Namun hal yang tidak pernah bisa kumaafkan dari diriku sendiri. Saat aku hanya mampu menemui Sarah, dengan membawa jutaan kata maaf dan menaburkan bunga di tepi makamnya. Hingga sunyi kembali berpesta di bawah genangan air mata penyesalan.
0 komentar:
Posting Komentar